ADINDA | Di tengah hiruk pikuk Skanderbeg Square, pusat aktivitas Kota Tirana, Albania, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang Islam di kawasan Balkan. Bangunan itu adalah Masjid Et’hem Bey (Et’hem Bey Mosque), salah satu masjid paling ikonik sekaligus simbol kebangkitan kehidupan beragama di Albania setelah puluhan tahun mengalami pengekangan pada era pemerintahan komunis.
Bagi wisatawan Muslim, mengunjungi Masjid Et’hem Bey bukan sekadar singgah untuk menunaikan ibadah. Masjid ini menawarkan pengalaman sejarah, seni, dan budaya yang berpadu harmonis dalam satu bangunan yang telah berdiri selama lebih dari dua abad. Tak heran apabila masjid ini menjadi salah satu destinasi wisata halal favorit bagi para pelancong Muslim yang berkunjung ke Albania.
Salah satunya adalah Priyadi Abadi, Direktur Utama Adinda Azzahra, yang sering menyempatkan diri mengunjungi Masjid Et’hem Bey setiap kali melakukan perjalanan ke Albania. “Masjid ini bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga ruang untuk mengenal lebih dekat perjalanan panjang umat Islam di Eropa Tenggara, arsitektur peninggalan Kesultanan Ottoman yang masih terjaga hingga kini,” ungkapnya.
Warisan Kesultanan Ottoman di Tirana
Sejarah Masjid Et’hem Bey bermula pada akhir abad ke-18 ketika wilayah Albania masih berada di bawah kekuasaan Kesultanan Ottoman. Berdasarkan berbagai sumber sejarah, pembangunan masjid ini dimulai sekitar 1791 atau 1794 M, sementara plakat resmi di area masjid mencatat tahun 1208 Hijriah atau 1793–1794 M sebagai tahun pembangunannya.
Pembangunan masjid diprakarsai oleh Molla Bey, seorang bangsawan sekaligus tokoh penting pada masa itu. Namun, beliau wafat sebelum pembangunan selesai. Proyek tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya, Haxhi Et’hem Bey, yang akhirnya menyelesaikan pembangunan sekitar 1819 atau 1821 M. Dari nama sang penyelesai inilah kemudian masjid dikenal sebagai Et’hem Bey Mosque.
Sejak awal berdirinya, masjid ini telah menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat Tirana sekaligus menjadi bagian penting dari kawasan kota tua. Letaknya yang berada tepat di pusat kota menjadikannya mudah diakses oleh para pedagang, ulama, maupun masyarakat umum yang beraktivitas di sekitar pasar tradisional Tirana pada masa Ottoman.

Bertahan di Tengah Penindasan Rezim Komunis
Perjalanan panjang Masjid Et’hem Bey tidak selalu berjalan mulus. Setelah Albania berada di bawah pemerintahan komunis, negara ini menerapkan kebijakan ateisme yang sangat ketat. Hampir seluruh rumah ibadah, baik masjid, gereja, maupun tempat ibadah lainnya ditutup dan aktivitas keagamaan dilarang.
Masjid Et’hem Bey juga mengalami nasib serupa. Aktivitas ibadah dihentikan dan pintu masjid ditutup untuk masyarakat. Meski demikian, bangunan bersejarah ini tidak dihancurkan sebagaimana beberapa bangunan keagamaan lainnya.
Pemerintah saat itu justru menetapkan Masjid Et’hem Bey sebagai monumen sejarah dan budaya nasional. Status tersebut membuat bangunannya tetap dipertahankan serta menjalani beberapa tahap pemugaran pada dekade 1960-an hingga 1970-an demi menjaga nilai historis dan artistiknya.
Keputusan tersebut menjadi berkah tersendiri. Berkat status cagar budaya, keindahan arsitektur asli masjid masih dapat dinikmati hingga sekarang.
Peristiwa Bersejarah 18 Januari 1991
Salah satu babak paling penting dalam sejarah Masjid Et’hem Bey terjadi pada 18 Januari 1991. Pada hari itu, sekitar 10.000 warga Albania berbondong-bondong memasuki masjid untuk kembali melaksanakan ibadah, meskipun pemerintah komunis saat itu masih memberikan penolakan.
Dalam momentum bersejarah tersebut, bendera Albania turut dikibarkan sebagai simbol kebangkitan bangsa sekaligus kebebasan menjalankan agama.
Peristiwa ini kemudian dikenang sebagai salah satu titik awal runtuhnya rezim komunis Albania. Tidak hanya menjadi kemenangan bagi umat Islam, tetapi juga menjadi simbol lahirnya kembali kebebasan beragama di negara tersebut.
Hingga kini, masyarakat Albania masih mengenang momen tersebut sebagai salah satu tonggak penting dalam perjalanan demokrasi dan hak asasi manusia di negaranya.
Restorasi Besar Tahun 2021
Memasuki abad ke-21, usia bangunan yang telah melampaui dua ratus tahun tentu memerlukan perawatan serius. Karena itu, pada 2021, Masjid Et’hem Bey menjalani restorasi besar melalui kerja sama antara Republik Turki dan Republik Albania.
Program restorasi dilaksanakan oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Turki bersama Turkish Cooperation and Coordination Agency (TİKA), bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Albania.
Informasi tersebut tercantum jelas pada plakat resmi di halaman masjid yang ditulis dalam tiga bahasa, yaitu Albania, Turki, dan Inggris.
Restorasi dilakukan dengan prinsip konservasi sehingga seluruh elemen asli bangunan tetap dipertahankan. Mulai dari struktur bangunan, ukiran kayu, hingga lukisan dinding dipugar secara hati-hati agar tidak menghilangkan nilai sejarah yang melekat selama lebih dari dua abad.
Interior yang Berbeda dari Masjid-Masjid Balkan Lainnya
Salah satu daya tarik terbesar Masjid Et’hem Bey justru berada di bagian interiornya. Berbeda dengan banyak masjid Ottoman lainnya yang didominasi kaligrafi dan pola geometris, masjid ini menampilkan lukisan dekoratif bergaya fresco yang sangat kaya warna.
Sekitar 700 meter persegi bagian dalam masjid dihiasi lukisan tangan yang menggambarkan pepohonan, bunga-bungaan, air terjun, sungai, jembatan batu, taman, hingga lanskap alam yang indah. Motif-motif tersebut menjadi ciri khas seni dekoratif Ottoman yang jarang ditemukan di kawasan Balkan.
Langit-langitnya dipenuhi ornamen floral yang dibuat dengan detail tinggi. Sementara itu, mimbar, mihrab, dan elemen kayunya dipenuhi ukiran artistik yang menunjukkan keahlian para pengrajin pada masa Ottoman.
Keunikan inilah yang membuat banyak sejarawan menyebut Masjid Et’hem Bey bukan sekadar rumah ibadah, melainkan juga sebuah galeri seni Islam yang hidup.
Keindahan yang Kembali Bersinar Setelah Restorasi
Restorasi tahun 2021 berhasil mengembalikan pesona interior masjid yang sempat memudar akibat usia dan debu yang menumpuk selama puluhan tahun.
Lapisan tambahan yang pernah menutupi sebagian mural berhasil dibersihkan sehingga warna-warna asli kembali terlihat. Proses konservasi dilakukan dengan sangat hati-hati mengingat kondisi lukisan yang telah berusia lebih dari dua abad tergolong rapuh.
Kini, para pengunjung dapat menikmati kembali keindahan fresco yang menampilkan perpaduan warna hijau, emas, biru, dan merah dengan kualitas yang hampir menyerupai kondisi aslinya.
Destinasi Wisata Halal yang Wajib Dikunjungi
Bagi wisatawan Muslim yang berkunjung ke Albania, Masjid Et’hem Bey merupakan destinasi yang hampir tidak pernah dilewatkan. Lokasinya yang strategis di pusat Tirana memudahkan wisatawan untuk menggabungkan kunjungan religi dengan eksplorasi berbagai bangunan bersejarah lain di sekitar Skanderbeg Square.
Hal inilah yang juga menjadi alasan Priyadi Abadi, Direktur Utama Adinda Azzahra, menjadikan Masjid Et’hem Bey sebagai salah satu destinasi favorit dalam setiap kunjungan ke Albania. Selain melaksanakan shalat, beliau juga menikmati suasana tenang masjid sambil mengagumi keindahan arsitektur Ottoman yang masih terawat. “Perjalanan ke sebuah negara akan terasa lebih bermakna apabila disertai kunjungan ke masjid-masjid bersejarah yang menjadi saksi perkembangan Islam,” ungkapnya.
Kehadiran Masjid Et’hem Bey membuktikan bahwa sebuah bangunan tidak hanya menyimpan nilai arsitektur, tetapi juga merekam perjuangan sebuah bangsa dalam mempertahankan identitas, keyakinan, dan kebebasan beragama. Dari masa Kesultanan Ottoman, melewati era komunisme, hingga kembali bersinar setelah restorasi pada tahun 2021, masjid ini tetap berdiri kokoh sebagai simbol keteguhan sejarah Islam di Albania.
Bagi siapa pun yang menginjakkan kaki di Tirana, mengunjungi Masjid Et’hem Bey bukan sekadar agenda wisata. Ini adalah kesempatan untuk menyelami perjalanan panjang peradaban Islam di Eropa Tenggara sekaligus menyaksikan bagaimana sebuah rumah ibadah mampu menjadi saksi bisu perubahan zaman selama lebih dari dua ratus tahun.[]



No comment