ADINDA| Bulan Zulhijah menjadi salah satu bulan istimewa dalam Islam. Di dalamnya terdapat hari-hari penuh kemuliaan, terutama sepuluh hari pertama Zulhijah yang dipenuhi berbagai amalan sunnah. Salah satu amalan yang banyak dilakukan umat Islam pada hari-hari tersebut adalah puasa Tarwiyah dan puasa Arafah.
Kedua puasa ini sering disebut bersamaan karena dilaksanakan pada tanggal 8 dan 9 Zulhijah. Meski sama-sama dikenal sebagai puasa sunnah yang memiliki keutamaan besar, ternyata keduanya memiliki perbedaan dari sisi kekuatan dalil yang mendasarinya.
Lalu, bagaimana sebenarnya penjelasan tentang puasa Tarwiyah dan puasa Arafah? Apa saja keutamaannya? Dan bagaimana pandangan ulama mengenai keduanya?
Puasa Arafah: Sunnah yang Memiliki Dalil Shahih
Puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Zulhijah, bertepatan dengan momentum jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji, puasa ini sangat dianjurkan karena memiliki keutamaan yang luar biasa besar.
Rasulullah SAW bersabda:
صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ ؛ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبَلَةً
“Puasa pada hari Arafah menghapus dosa dua tahun, yaitu tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.”
(HR. Muslim no. 1162)
Hadis ini berstatus shahih dan menjadi dasar utama kesunnahan puasa Arafah. Para ulama sepakat bahwa puasa ini sangat dianjurkan bagi muslim yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.
Keutamaan “menghapus dosa dua tahun” dipahami sebagai penghapusan dosa-dosa kecil, selama seseorang juga menjauhi dosa besar dan terus memperbanyak taubat kepada Allah SWT.
Hari Arafah: Hari Pembebasan dari Api Neraka
Keistimewaan hari Arafah tidak hanya terletak pada puasanya. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa hari Arafah merupakan salah satu hari terbaik dalam Islam.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa tidak ada hari di mana Allah membebaskan hamba dari api neraka lebih banyak dibanding hari Arafah. Karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak doa, dzikir, istighfar, dan amal saleh pada hari tersebut.
Hari Arafah juga menjadi momentum spiritual yang sangat mendalam. Saat jutaan jamaah haji berkumpul di Padang Arafah dengan pakaian ihram yang sederhana, umat Islam di berbagai penjuru dunia ikut merasakan suasana ibadah melalui puasa dan doa.
Rasulullah SAW Menjaga Puasa di Awal Zulhijah
Selain hadis tentang puasa Arafah, terdapat pula riwayat dari Hafshah RA yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan puasa pada hari-hari awal Zulhijah.
Riwayat tersebut menjadi salah satu penguat bahwa amalan puasa pada tanggal 1–9 Zulhijah memiliki nilai keutamaan tersendiri dalam Islam.
Karena itu, banyak ulama menganjurkan umat Islam memperbanyak puasa sunnah sejak awal Zulhijah, terutama menjelang hari Arafah.
كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ، وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ
“Rasulullah ﷺ biasa berpuasa pada sembilan hari (pertama) bulan Dzulhijjah, hari Asyura, dan tiga hari setiap bulan (yaitu Senin pertama dan Kamis).”
(HR. Abu Daud, dishahihkan Al-Albani)
Puasa Tarwiyah
Berbeda dengan puasa Arafah yang memiliki hadis shahih, puasa Tarwiyah pada tanggal 8 Zulhijah memiliki dasar hadis yang dinilai lemah oleh banyak ulama.
Ada hadis yang berbunyi:
صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ وَصَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ
“Puasa hari Tarwiyah menghapus dosa setahun dan puasa Arafah menghapus dosa dua tahun.”
(HR. Ibnu Hibban dan Ibnu an-Najjar)
Namun, para ahli hadis menilai riwayat tersebut berstatus dhaif atau lemah. Bahkan sebagian ulama menyebut kelemahannya cukup berat sehingga tidak bisa dijadikan landasan utama dalam menetapkan keutamaan khusus puasa Tarwiyah.
Ada pula riwayat lain dari Anas bin Malik RA yang menyebut pahala puasa Tarwiyah seperti kesabaran Nabi Ayyub AS, tetapi riwayat ini juga dinilai lemah.
Mengapa Banyak Ulama Tetap Menganjurkan Puasa Tarwiyah?
Meski hadis khusus tentang puasa Tarwiyah dianggap lemah, sebagian ulama tetap memandang puasa tanggal 8 Zulhijah sebagai amalan yang baik dan dianjurkan.
Hal ini karena puasa Tarwiyah masuk dalam cakupan amalan sunnah pada sepuluh hari pertama Zulhijah yang memang memiliki keutamaan umum.
Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah dibanding sepuluh hari pertama Zulhijah. Dari hadis inilah banyak ulama menganjurkan memperbanyak ibadah, termasuk puasa sunnah.
Selain itu, puasa Tarwiyah juga sering dikaitkan dengan upaya meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS. Dalam tradisi Islam, hari Tarwiyah menjadi bagian dari rangkaian perjalanan spiritual menuju puncak ibadah haji.
Karena itu, di banyak daerah dan tradisi keislaman, puasa Tarwiyah tetap diamalkan sebagai bentuk persiapan ruhani menyambut hari Arafah dan Iduladha.
Bolehkah Mengamalkan Hadis Dhaif untuk Amalan Sunnah?
Dalam pembahasan ilmu hadis, sebagian ulama membolehkan penggunaan hadis dhaif untuk amalan fadhailul a’mal atau keutamaan amal, dengan syarat tertentu:
- Hadisnya tidak terlalu lemah
- Tidak berkaitan dengan akidah atau hukum wajib-haram
- Amalan tersebut memiliki dasar umum dalam syariat
Karena itu, puasa Tarwiyah masih diamalkan oleh sebagian umat Islam sebagai bagian dari ibadah sunnah di awal Zulhijah, meskipun tidak boleh diyakini memiliki keutamaan pasti seperti yang disebut dalam hadis lemah tersebut.
Sementara itu, puasa Arafah memiliki dasar yang jauh lebih kuat dan jelas kesunnahannya.
Hikmah Menjalankan Puasa di Bulan Zulhijah
Puasa Tarwiyah dan Arafah bukan sekadar menahan lapar dan haus. Ada banyak hikmah yang dapat dirasakan umat Islam ketika menjalankannya.
Di antaranya adalah:
- Melatih ketakwaan dan kesabaran
- Menumbuhkan rasa empati kepada sesama
- Menjadi momentum memperbanyak taubat
- Mendekatkan diri kepada Allah SWT
- Menghidupkan syiar Islam di bulan mulia
Selain itu, puasa di awal Zulhijah juga menjadi pengingat tentang kisah pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang penuh keikhlasan dan ketaatan kepada Allah.
Penutup
Puasa Arafah dan puasa Tarwiyah sama-sama dikenal luas di tengah masyarakat Muslim. Namun, dari sisi dalil, puasa Arafah memiliki landasan hadis shahih dengan keutamaan yang sangat jelas, yakni penghapusan dosa selama dua tahun bagi orang yang menjalankannya dengan penuh keimanan.
Sementara itu, puasa Tarwiyah memiliki hadis yang berstatus lemah. Meski demikian, sebagian ulama tetap menganjurkannya karena termasuk dalam amalan sunnah di sepuluh hari pertama Zulhijah.
Pada akhirnya, kedua puasa ini dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT, terutama menjelang hari raya Iduladha yang penuh makna pengorbanan dan ketakwaan.[]


No comment