ADINDA | Menjelajahi Rusia tidak selalu identik dengan kemegahan istana, bangunan bersejarah peninggalan Kekaisaran Tsar, atau arsitektur megah khas Eropa. Bagi wisatawan Muslim, negeri yang membentang luas di antara Eropa dan Asia ini juga menyimpan jejak peradaban Islam yang telah tumbuh selama berabad-abad. Salah satu tempat terbaik untuk mengenalnya adalah Kazan, ibu kota Republik Tatarstan, yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat kehidupan Muslim di Rusia.
Di kota ini, wisatawan dapat menemukan masjid-masjid bersejarah dengan karakter arsitektur yang unik, tradisi Islam masyarakat Tatar, hingga peninggalan peradaban Muslim yang masih terawat. Salah satu yang paling menarik adalah Masjid Marcani atau Al-Marjani, bangunan bersejarah yang berdiri di kawasan Kota Tua Tatar, tidak jauh dari Danau Kaban. Tepatnya di Jalan Kayuma Nasyri No. 17, kawasan Kota Tua Tatar, Kazan.
Lokasinya yang berada di kawasan bersejarah membuat masjid ini mudah dipadukan dengan perjalanan wisata budaya di sekitar Kota Tua Tatar. Wisatawan dapat menikmati suasana lingkungan tradisional sekaligus melihat berbagai peninggalan sejarah masyarakat Muslim setempat.
Bagi wisatawan Muslim dari Indonesia, mengunjungi masjid ini bukan sekadar perjalanan religi untuk melihat bangunan tempat ibadah. Ada pengalaman sejarah dan kebudayaan yang dapat ditemukan di balik dindingnya. Masjid Marjani menjadi saksi perjalanan panjang umat Islam di Kazan, mulai dari kebangkitan pembangunan masjid pada abad ke-18, perkembangan pendidikan Islam, hingga ketahanannya menghadapi berbagai perubahan politik pada masa Kekaisaran Rusia dan Uni Soviet.
Keistimewaan lainnya terletak pada arsitekturnya. Masjid ini memperlihatkan perpaduan tradisi bangunan Tatar dengan sentuhan Barok Eropa. Menaranya yang menjulang dari bagian atap, ornamen dekoratif, serta tata ruang dua lantai menghadirkan karakter masjid yang berbeda dari kebanyakan bangunan Islam di negara lain. Keindahannya menjadi bukti bahwa peradaban Islam mampu berkembang dengan identitas khas di tengah pertemuan budaya Eropa dan Asia.
Masjid Marjani juga menjadi salah satu destinasi yang kerap dikunjungi Priyadi Abadi, CEO Adinda Azzahra Tour & Travel, ketika melakukan perjalanan ke Kazan, Rusia. Dalam memperkenalkan wisata Muslim ke berbagai negara, Priyadi memandang masjid bersejarah sebagai destinasi yang memiliki nilai lebih dari sekadar keindahan bangunan. Melalui kunjungan seperti ini, wisatawan Indonesia dapat mengenal sejarah Islam di negara yang selama ini mungkin belum banyak mereka ketahui.
Dari Masjid Marjani, perjalanan wisata Muslim di Kazan terasa lebih bermakna. Pengunjung tidak hanya menyaksikan arsitektur Islam yang indah, tetapi juga diajak memahami bagaimana masyarakat Tatar mempertahankan agama, pendidikan, dan identitas kebudayaannya selama berabad-abad.
Inilah yang membuat Masjid Marjani layak masuk dalam daftar destinasi wisata Muslim ketika menjelajahi Rusia. Sebuah bangunan bersejarah yang bukan hanya menyimpan cerita masa lalu, tetapi juga menjadi bukti bahwa kehidupan Islam tetap tumbuh dan bertahan di tengah perjalanan panjang sejarah negeri tersebut.
Kebangkitan Masjid Setelah Penaklukan Kazan
Untuk memahami arti penting Masjid Marjani, perjalanan sejarahnya perlu ditarik kembali ke abad ke-16. Pada 1552, Kota Kazan ditaklukkan oleh pasukan Tsar Ivan IV atau Ivan the Terrible. Peristiwa tersebut menjadi titik balik besar bagi kehidupan masyarakat Muslim Tatar yang sebelumnya telah memiliki tradisi pemerintahan, kebudayaan, dan keagamaan Islam yang kuat.
Penaklukan tersebut membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat setempat. Aktivitas keagamaan Islam menghadapi berbagai pembatasan, sementara pembangunan masjid mengalami masa sulit. Namun, Islam tidak pernah benar-benar hilang dari kehidupan masyarakat Tatar. Tradisi keagamaan tetap dipertahankan melalui keluarga, pendidikan, dan komunitas Muslim yang terus menjaga identitasnya.
Setelah melewati masa panjang tersebut, perkembangan kehidupan Islam mulai menemukan ruang baru pada abad ke-18. Salah satu tonggak pentingnya adalah pembangunan Masjid Marjani yang kemudian menjadi simbol kebangkitan arsitektur Islam di Kazan.
Pembangunan masjid ini berlangsung pada 1766–1770. Sejumlah catatan sejarah menghubungkan izin pendiriannya dengan kunjungan Maharani Catherine II atau Catherine Agung ke Kazan pada 1767.
Catherine II memberikan izin pembangunan masjid batu bagi masyarakat Muslim setempat. Keputusan tersebut memiliki arti penting karena membuka kembali kesempatan bagi komunitas Muslim untuk membangun rumah ibadah yang lebih permanen.
Karena itu, Masjid Marcani bukanlah masjid pertama dalam sejarah Kazan. Namun, keberadaannya menjadi salah satu penanda penting kebangkitan pembangunan masjid batu setelah penaklukan kota tersebut pada 1552.
Arsitektur Tatar Berpadu dengan Barok Eropa
Salah satu daya tarik utama Masjid Marcani adalah arsitekturnya. Bangunan ini menghadirkan perpaduan menarik antara tradisi arsitektur masyarakat Tatar dengan pengaruh Barok Eropa yang berkembang pada abad ke-18.
Perpaduan tersebut membuat Mardjani memiliki karakter berbeda dibandingkan masjid-masjid besar di kawasan Timur Tengah maupun Asia Tenggara.
Dari luar, bangunan masjid terlihat memiliki susunan bertingkat dengan bentuk yang relatif sederhana. Namun, jika diperhatikan lebih dekat, terdapat berbagai detail dekoratif yang memperlihatkan pengaruh seni arsitektur Eropa, terutama dalam pengolahan fasad dan ornamen bangunan.
Salah satu ciri paling khas adalah posisi menaranya. Jika sebagian besar masjid memiliki menara yang berdiri terpisah di halaman atau sisi bangunan, menara Masjid Marjani justru menjulang dari bagian tengah atap.
Bentuk tersebut merupakan salah satu tradisi arsitektur masjid masyarakat Tatar. Menara menjadi bagian yang menyatu dengan komposisi bangunan, bukan elemen tambahan yang berdiri sendiri.
Pengaruh Barok Eropa semakin terasa melalui sejumlah detail interior. Ornamen dan pengolahan ruang memperlihatkan bagaimana unsur seni dari lingkungan Eropa dapat berpadu dengan kebutuhan serta identitas bangunan ibadah Islam.
Keistimewaannya terletak pada kemampuan bangunan ini mempertahankan karakter Muslim Tatar tanpa menutup diri terhadap pengaruh kebudayaan di sekitarnya.
Perubahan Bangunan dan Peran Keluarga Pedagang Muslim
Masjid Marcani yang dapat disaksikan sekarang bukanlah bangunan yang seluruh bentuknya berasal dari masa pembangunan pada abad ke-18. Selama lebih dari dua abad, masjid ini mengalami sejumlah perluasan, perbaikan, dan penyempurnaan.
Perubahan tersebut tidak terlepas dari kontribusi para pedagang Muslim yang memiliki kepedulian besar terhadap keberlangsungan rumah ibadah. Salah satu keluarga yang berperan penting adalah keluarga Yunusov.
Pada 1861, perluasan bangunan dan pembangunan tangga di sisi utara masjid dibiayai oleh I. G. Yunusov. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1863, bagian mihrab diperluas dan jendela-jendela bangunan diperbesar.
Mihrab merupakan ceruk pada dinding masjid yang menunjukkan arah kiblat. Perluasan bagian ini menjadi salah satu upaya penyempurnaan ruang ibadah agar semakin sesuai dengan kebutuhan jamaah.
Perubahan berikutnya berlangsung pada 1885. Saat itu, menara masjid dibangun kembali dengan dukungan dana dari seorang pedagang bernama Z. Usmanov. Pada 1887, dilakukan pula penambahan pagar berhias yang semakin memperkuat karakter dekoratif bangunan.
Rangkaian renovasi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan Masjid Marcani tidak hanya bergantung pada satu generasi pendirinya. Masyarakat Muslim Tatar terus merawat dan mengembangkan bangunan ini sebagai bagian penting dari kehidupan mereka.
Shigabutdin Mardjani, Ulama yang Mengabadikan Namanya dalam Sejarah Masjid
Nama Mardjani memiliki hubungan erat dengan seorang tokoh penting dalam sejarah intelektual Islam masyarakat Tatar, yaitu Shigabutdin Mardjani atau Syihabuddin Marjani.
Ia lahir pada 1818 dan dikenal sebagai ulama, sejarawan, serta pembaru pendidikan Islam. Namanya kemudian diabadikan sebagai nama masjid untuk mengenang kontribusi besarnya terhadap kehidupan keagamaan dan intelektual masyarakat Tatar.
Mardjani bukan pendiri maupun arsitek masjid. Hubungannya dengan bangunan tersebut bermula ketika ia diangkat menjadi imam-khatib sekaligus mudarris atau pengajar ilmu agama pada 1850.
Masjid yang saat itu dikenal sebagai Masjid Pertama Kazan menjadi tempat Mardjani mengabdikan diri selama puluhan tahun, hingga akhir hayatnya pada 1889. Meski demikian, masa pengabdiannya sempat mengalami jeda pada 1854 dan 1874 akibat perselisihan dengan pihak otoritas keagamaan serta seorang penyandang dana setempat.
Peran Mardjani tidak sebatas memimpin shalat dan menyampaikan khotbah. Ia juga menjadi pendidik yang membimbing murid-murid dalam mempelajari agama Islam dan mengembangkan pemikiran keilmuan.
Pengaruhnya bahkan menjangkau dunia pendidikan dan penelitian sejarah. Mardjani dikenal sebagai tokoh yang berusaha menghubungkan tradisi keilmuan Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern.
Sebelum kembali ke Kazan, ia menempuh pendidikan di Bukhara dan Samarkand pada 1838–1849. Di dua pusat keilmuan Islam Asia Tengah tersebut, ia mendalami berbagai disiplin ilmu agama dan membaca karya sejumlah pemikir besar, seperti Al-Ghazali, Ibnu Rusyd, dan Ibnu Khaldun.
Kontribusinya juga terlihat dalam bidang penulisan sejarah. Salah satu karya pentingnya berjudul Mustafad al-akhbar fi ahwali Kazan wa Bolgar, yang membahas perjalanan sejarah Kazan dan masyarakat Bulgar.
Dalam menyusun karya tersebut, Mardjani menggunakan berbagai sumber berbahasa Arab, Persia, dan Turki. Ia juga memanfaatkan bukti prasasti, mata uang, serta tradisi lisan untuk merekonstruksi sejarah masyarakatnya.
Pada 1876, ia terpilih menjadi anggota Perhimpunan Arkeologi, Sejarah, dan Etnografi di Universitas Kazan. Pengakuan tersebut memperlihatkan bahwa pemikirannya tidak hanya dihargai dalam lingkungan keagamaan, tetapi juga dalam dunia akademis yang lebih luas.
Sepanjang hidupnya, Mardjani meninggalkan lebih dari 30 karya ilmiah dan pendidikan yang membahas berbagai bidang, termasuk akidah, fikih, etika, ilmu Al-Qur’an, dan sejarah.
Kehadiran sosok Mardjani membuat Masjid Mardjani memiliki makna yang lebih mendalam. Bangunan ini bukan hanya mengenang perjalanan peribadatan masyarakat Muslim Tatar, tetapi juga menjadi pengingat tentang pentingnya pendidikan, pemikiran kritis, dan pelestarian sejarah Islam.
Satu-Satunya Masjid di Kazan yang Bertahan Sepanjang Masa Soviet
Salah satu bagian paling menarik dari sejarah Masjid Marjani adalah keberlangsungannya selama periode Uni Soviet.
Pada masa pemerintahan Soviet, kehidupan beragama di berbagai wilayah mengalami tekanan. Kebijakan negara yang cenderung membatasi aktivitas keagamaan berdampak pada banyak rumah ibadah, termasuk masjid-masjid di kawasan yang memiliki populasi Muslim.
Tidak sedikit masjid yang ditutup atau dialihfungsikan. Aktivitas pendidikan agama juga menghadapi berbagai pembatasan. Namun, Masjid Marcani memiliki perjalanan yang berbeda.
Masjid ini dikenal sebagai satu-satunya masjid di Kazan yang tetap beroperasi sepanjang masa Uni Soviet. Sumber sejarah pemerintah kota Kazan juga mencatat bahwa bangunan tersebut tidak pernah ditutup dan kegiatan keagamaannya tetap berlangsung.
Masjid Marcani menjadi tempat yang menghubungkan generasi Muslim Tatar sebelum masa Soviet dengan generasi setelahnya. Ketika banyak bangunan keagamaan kehilangan fungsi aslinya, Marjani tetap menjalankan perannya sebagai tempat ibadah.
Priyadi Abadi dan Masjid Marcani sebagai Destinasi Wisata Muslim
Kazan merupakan salah satu kota di Rusia yang memiliki jejak peradaban Islam cukup kuat. Kota ini bahkan dikenal sebagai salah satu pusat penting kebudayaan Muslim Tatar.
Karena itu, berkunjung ke Kazan memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan Muslim Indonesia. Mereka tidak hanya dapat menikmati bangunan bersejarah dan suasana kota, tetapi juga mengenal perjalanan Islam yang telah berkembang selama berabad-abad di wilayah Rusia.
Dalam konteks wisata tersebut, Masjid Marjani menjadi salah satu destinasi yang menarik untuk dikunjungi.
Priyadi Abadi, CEO Adinda Azzahra Tour & Travel, kerap menjadikan masjid bersejarah ini sebagai salah satu tujuan wisata Muslim ketika berkunjung ke Kazan, Rusia.
Bagi Priyadi, mengunjungi masjid di luar negeri bukan hanya kesempatan untuk menunaikan ibadah. Perjalanan tersebut juga menjadi sarana mengenalkan sejarah Islam dan peradaban Muslim kepada wisatawan Indonesia.
“Masjid Marcani memiliki nilai khusus karena menyimpan cerita tentang perjalanan masyarakat Tatar dalam mempertahankan agama dan kebudayaannya. Dari bangunan ini, wisatawan dapat memahami bagaimana Islam berkembang di tengah lingkungan Kekaisaran Rusia, mengalami berbagai tantangan politik, hingga tetap bertahan pada masa Uni Soviet,” ungkapnya.
Selain nilai sejarah, tambah Priyadi, keindahan arsitekturnya juga menjadi daya tarik tersendiri. Perpaduan tradisi Tatar dan sentuhan Barok Eropa memberikan gambaran tentang kekayaan seni Islam yang berkembang melalui interaksi lintas budaya.
“Pengalaman semacam ini penting dalam memperluas wawasan wisatawan Muslim Indonesia. Selama ini, destinasi wisata religi sering kali identik dengan perjalanan ke Makkah, Madinah, atau negara-negara Timur Tengah. Padahal, jejak peradaban Islam juga dapat ditemukan di berbagai wilayah Eropa dan Rusia,” tuturnya.
Kazan menjadi salah satu contohnya. Kota ini memperlihatkan bahwa Islam memiliki sejarah panjang di luar kawasan yang selama ini dikenal sebagai pusat dunia Muslim.
Melalui kunjungan ke Masjid Marcani, wisatawan dapat melihat langsung bagaimana masyarakat Muslim Tatar membangun identitas keagamaan dan kebudayaannya selama berabad-abad.
Sumber:
- visit-tatarstan.com
- Wikipedia.or.id
- themoscowtimes.com
- journest.app
- metshin.ru
- iopscience.iop.org
- bolgar.academy


No comment