Masjid Al Rahim Ho Chi Minh: Jejak Perantau Bawean di Vietnam

masjid al rahim ho chi minh vietnam

ADINDA | Di jantung Kota Ho Chi Minh, Vietnam, berdiri sebuah masjid yang bukan sekadar tempat ibadah, melainkan penanda sejarah panjang perantauan Muslim Nusantara. Masjid Al Rahim, yang berdiri sejak 1885, menjadi saksi bisu perjalanan orang-orang Melayu, khususnya dari Bawean (Indonesia), sekaligus simbol kuat persaudaraan Malaysia–Indonesia di tanah Vietnam.

Masjid yang terletak di Distrik 1 ini hingga kini masih aktif digunakan sebagai pusat ibadah, silaturahmi, dan persinggahan wisata halal bagi umat Muslim dari berbagai negara. Keberadaannya terasa istimewa karena masjid ini lahir dari perpaduan sejarah migrasi, dakwah, dan solidaritas lintas bangsa.

Tradisi Merantau dan Lahirnya Masjid Al Rahim

Sejarah Masjid Al Rahim tak bisa dilepaskan dari kisah para perantau Bawean. Berdasarkan laporan National Geographic Indonesia edisi 2015, yang disampaikan kembali oleh Priyadi Abadi, tour leader wisata Muslim Adinda Azzahra, komunitas Bawean telah hadir di Vietnam sejak masa kolonial.

Salah satu tokoh sentral masjid ini adalah Imam Haji Ally, pemimpin Masjid Al Rahim. Ia mengikuti kedua orang tuanya hijrah ke Ho Chi Minh City saat masih berusia 11 tahun, pada masa penjajahan Belanda.

Ayah Haji Ally bekerja sebagai teknisi mesin untuk pemerintah kolonial. Seiring waktu, komunitas Bawean di Vietnam pun berkembang, sebagian menikah dengan warga lokal Vietnam, sementara yang lain melanjutkan perjalanan ke Malaysia dan Singapura.

Tidak ada catatan pasti kapan orang Bawean pertama kali tiba di Vietnam. Namun, masyarakat yang dikenal kuat dengan tradisi merantau ini diperkirakan meninggalkan kampung halaman mereka pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Selain ke Vietnam, banyak pula yang merantau ke Singapura dan Malaysia.

Pada masa itu, Vietnam masih berada di bawah penjajahan Perancis. Di tengah keterbatasan, para perantau Bawean bersama komunitas Muslim setempat membangun Masjid Al Rahim dengan bahan bangunan sederhana dari kayu. Masjid ini kemudian dikenal sebagai salah satu masjid tertua di Vietnam, yang menjadi pusat kehidupan spiritual umat Islam di Saigon—nama lama Ho Chi Minh City.

Seiring berjalannya waktu, masjid mengalami beberapa kali renovasi berkat sumbangan para donatur. Renovasi besar terakhir dilakukan tahun 2013 lalu, yang mengubah hampir seluruh bentuk asli bangunan, meski nilai sejarah dan fungsinya tetap terjaga.

Simbol Kerja Sama Malaysia–Indonesia

Dalam perkembangannya, Masjid Al Rahim tidak hanya menjadi milik komunitas Bawean, tetapi juga menjadi simbol kerja sama Malaysia dan Indonesia. Identitas ini tercermin jelas pada papan nama masjid yang menegaskan keterlibatan komunitas Muslim dari kedua negara serumpun tersebut.

Hingga kini, pengelolaan masjid dilakukan secara kolektif oleh komunitas Muslim lintas negara, dengan semangat persaudaraan dan gotong royong. Bahasa Melayu dan Indonesia kerap terdengar di lingkungan masjid, menghadirkan suasana akrab bagi jamaah maupun wisatawan.

Masjid Al Rahim kini juga dikenal sebagai salah satu titik penting dalam wisata halal di Vietnam. Para wisatawan Muslim menjadikan masjid ini sebagai tempat shalat, beristirahat, sekaligus pusat informasi mengenai makanan halal dan kehidupan Muslim di Ho Chi Minh City.

Lebih dari itu, masjid ini berperan sebagai jembatan dakwah dan kebudayaan, memperkenalkan Islam yang ramah, damai, dan inklusif di tengah masyarakat multikultural Vietnam.

Masjid Al Rahim Vietnam adalah bukti nyata bahwa Islam Nusantara memiliki jejak panjang di Asia Tenggara. Dari tradisi merantau orang Bawean, perjuangan hidup di masa kolonial, hingga kerja sama Malaysia–Indonesia hari ini, masjid ini berdiri sebagai simbol sejarah, persaudaraan, dan keteguhan iman.

Di tengah modernisasi Kota Ho Chi Minh, Masjid Al Rahim tetap menjadi pengingat bahwa perjalanan umat Islam di perantauan selalu dibingkai oleh semangat bertahan, berbagi, dan menjaga warisan—sebuah makna yang selaras dengan namanya: Al Rahim, Yang Maha Penyayang.[]

News

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.